Sabtu, 18 Mei 2019

#np Hapiness-Rex Orange County 🎶





Upon waiting for my Indomie to finish cooking this afternoon, I opened my Instagram and found an interesting DM from a friend who i rarely talked to, stating : 

"Hidup anda kayaknya membahagiakan ya tis. Banyak orang yang sayang kamu, kasih hadiah dengan berbagai media dan output. Sungguh mengharukan". 

I did a long pause after read all of those words. 

Some people didnt know what other people have been thru and I dont  blame them for not understand. But suddenly it stroke me right away: the slight relief sense in my heart. 
Why? Because things have been crazy lately. I've been upset bout so many things and i have no idea how to work through all of these things alone. I try not to complain a lot. Try to vibes alone and not depend to other people. But everything's so complicated and i always think that i can't survive :(

Percayalah, menuju 27 adalah beban terberat yang pernah saya alami menjelang ulang tahun. I'm feeling like i have no achievement beside staying alive and sane, dan segala ke-overthinking-an ini membawa saya ke satu hal : at some point, i feel like i lost my self-worth. 

DM tersebut membuat saya benar-benar sadar bahwa saya seharusnya bisa sangat lebih bersyukur melewati usia 27 ini. 

Teringat pembicaraan 6 bulan lalu sebelum saya berulang tahun ke 27. My ex-boyfriend told me to call-off the wedding 2 Months before the wedding ceremony. The worst part of everything was, when I asked "why?", He replied with "aku belom siap."

Lah kalau belum siap, kenapa baru bilang sekarang? setelah semua vendor sudah di DP dan semua persiapan sudah hampir selesai. Dari semua alasan yang dia list kenapa dia belom siap menikahi saya, ada satu hal yang membuat saya ingin tarik napas dan kipas-kipas kepala saya yang udah pengen meledak. 

He said, "Aku ingin hidup aku terus maju dan aku pengen punya pendamping hidup yang bisa mengimbangi aku yang terus maju, terus punya achievement. Kamu bisa? Kamu memang udah tau tujuan hidup kamu apa? Achievement kamu apa aja? Ya kalau kamu bisa ya gapapa. tapi yakin kamu bisa mengimbangi?".

9 tahun pacaran. Ngelewatin segala ups and downs bareng dari jaman dia belum sukses sampai dia sukses dan pada akhirnya yang di pertanyakan adalah achievement saya yang gabisa mengimbangi dia.

I dont know how to react to that actually. Bukan salah dia sih punya pemikiran kayak gitu, wajar. Dia pengusaha yang lagi ada di puncak karir, pengen punya pendamping hidup yang selevel ya wajar demi keberlanjutan usaha dan karir dia. Tapi ternyata buat ga sakit hati di bilang kayak gitu itu susah juga ya. Haha. Dan pada posisi ini pun kenyataannya ya memang begitu : I have no achievement. Saya baru satu semester menempuh pendidikan di S2 (pun itu dia yang suruh), I have no job, no money. Hidup mandiri tiap bulan aja masih berdarah-darah, masih nabung berhemat biar ga hedon tiap bulan. Sedangkan hampir semua teman dekat di usia saya sudah mapan bekerja, menikah, punya anak, membahagiakan orang tua. Where was I?

2018 adalah tahun tergila buat saya. Posisi gapunya eksistensi hidup apapun. No achievement. Perkara masalah menikah yang gagal pun membawa saya untuk menjauhkan diri dari orang sekitar. Segan sama orang tua saya dan keluarga terdekat saya, menarik diri dari lingkungan pertemanan cuma karena saya malas ditanya "Tissa kapan jadinya nikah?" (Percayalah perkara ini saya cuma cerita sama 2 orang terdekat saya, yang saya tau kira-kira ketika saya cerita, mereka ga akan banyak mengajukan pertanyaan). Jadi, awal tahun 2018 saya jungkir balik sendirian, nata perasaan dan otak saya biar bisa survive ngelewatin hidup dengan normal tanpa ngeluh kesana sini.
Di otak pikirannya cuma satu : Maybe you'll think you wont survive, but then you survived. Eventually.

Modalnya bener-bener cuma ikhlas doang. Walaupun susahnya banget, terutama karna menikah beda banget sama putus. Urusannya ga cuma menyangkut saya dan mas (mantan) pacar, tetapi juga keluarga dan orang tua. Patah hatinya ngeliat orang tua saya patah hati lebih bikin patah hati daripada saya yang harusnya patah hati karna gagal nikah. 

But here we are. Di ulang tahun ke-27 yang saya kira ga bakal bisa di lewati dengan baik, ternyata menurut orang lain, hidup saya terlihat cukup bahagia. Karena percayalah, pada akhirnya hidup bahagia itu ga harus se cheessy you met your soulmate then lived happily ever after doang. Bisa melewati semuanya dengan normal, staying sane di kondisi yang harusnya kamu bisa ngamuk-ngamuk nangis nangis sampe abis air mata, dan tetap bisa bersosialisai dengan normal dan berteman dengan baik sama orang lain juga adalah bentuk hal yang harus disyukuri.

Pada akhirnya bahagia itu perkara sesimpel menerima diri sendiri, dan segala flaws nya. pelan-pelan menata tujuan hidup lagi, menata kepercayaan diri lagi buat punya goal di dalam hidup lagi. Pelan-pelan ngurangin baggage biar nantinya ga ngerusak ritme relationship berikutnya.

And thank god, I survived. 2019, Still no achievement (yet) sih, selain sedang berjuang lulus. Bersyukur punya orang-orang yang bisa paham sama semua hal-hal yang saya lalui diatas dan jadi best support system sampai sejauh ini.

Just pretend you are fine, until you really are :)


Xoxo,
Tissaflo

( Tulisan ini seharusnya ditulis setahun lalu di ulang tahun saya yang ke-27, tapi karena kesibukan yang super duper gabisa di sela, jadi baru bisa saya selesaikan dan posting. Sekedar berbagi cerita dan juga pengingat terutama buat diri saya sendiri : Saya pernah merasa hampir putus asa, tapi pada akhirnya semua bisa tertata baik-baik dan paham bahwa yang dicari bukan sempurna dan berbahagia di akhir cerita, tetapi justru bahagia melewati segala prosesnya ketika pelan-pelan kamu bisa menata hidupmu lagi dengan sedikit lebih baik).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar