Kamis, 10 Oktober 2019

Chapter 01 : Fake Optics - Ardhito Pramono ♥ (A Short Story about Kikinyooo)




Pertemuan pertama saya dengan Kikinyo bukanlah suatu hal yang cukup istimewa untuk diingat. Semua terjadi sambil lalu dan saya selalu merasa kalau she's just that popular girl with all the privileges: pretty, rich, get along well with other people, and loves the spotlight. Dimana saya bukanlah tipe yang akan berinteraksi terlalu dekat dengan banyak orang-orang populer seperti itu. I hate the spotlight and I hate to do a little talk to strangers. I always think i need a book about how to mingle with other human everytime i have to meet a bunch of people in some social events dan Kikinyo adalah kebalikan dari saya. She loves the crowd and she can handle the situation well. Sebagai pecinta rom-com dan segala film drama bernuansa teenlit, udah bakal kebayang banget kira-kira doi bakal jadi peran yang semacam apa. She'll be that poppy moore in Wild Child or Elle wood in Legally Blonde (and I'll be that drippy girl who loves to finished all the leftover ice cream inside the dorm's refrigerator). Tipikal cewe-cewe yang punya geng perempuan yang hobi belanja dan dandan, party goers, idaman para senior populer, self-centered dan sebagainya.

But, no. Setelah 2 tahun terakhir menghabiskan sisa hidup perkuliahan S2 saya dengan Kikinyo, membuat saya berpikir bahwa dia justru lebih mirip Rachel Green di series Friends. If you ever watched the Friends Series, you'll find that Rachel Green has a very-very great character development amongs the other cast on that tv show. She goes from marrying for money to a full-fledged career woman.

While there are countless "poor little rich girl" characters in film and television shows, Rachel Green feels very unique. She does have some trials and tribulation since she break ups with her rich-fiance in the begining of the show, and since she works as a waitress and does struggle before she gets her dream job and settle, I dont feel like she simply gets everything handed to her.

All the first impressions were just fake optics. Saya tahu bahwa kehidupan teman saya ini pun tidak semudah yang saya judge di awal pertemuan. She didnt simply get all the privileges handed to her. Semakin hari pun saya meyakini bahwa dia semakin bekerja keras untuk mendapatkan semuanya-- Karir dan segala pencapaiannya. Because you know, you don't have to be great, you just have to have the will to constantly improve yourself.

2 tahun struggling bareng di dunia perkuliahan membuat saya sadar bahwa setiap orang punya kisah struggle-nya masing-masing. Kikinyo adalah satu dari sekian banyak teman saya yang membuat saya banyak belajar baik dari gimana cara dia berprogress dan juga gimana dia nge-treat orang lain dengan baik.

She's smart, fashionable, ditzy and a great friend indeed ♥



Only 2 years but she has witnessed me going through heartbreaks and dissapointments, understand how sometimes I could be so unlovable (ga keitung berapa kali udah kikinyo kena marah-marahnya aku kalo lagi super cranky hahaha maapkan ya :')

Saya ingat saya pernah jadi manusia super menyebalkan seharian dan kinyo kena dampak omelan saya hari itu. Saya sadar betul orang lain mungkin bakal kesal dan mungkin balik marah atau malah jadi jauh. But she didnt. Gantinya justru seplastik penuh makanan kesukaan saya (dan warnanya kuning semua) dan simple notes bertuliskan: I know you have a bad day, I hope these things will brighten your mood. Langsung mewek di tempat :')

Every time I felt broken and defeated, she reminded me that I was worthy of someone better, because of the way she treats me.

And I will always remember that. I hope that there would be more women supporting each other like this during all the challenging and confusing time of our lives. Cheers!


xoxo,
Tissaflo





An opening to a new Chapter ♥



I'm graduating. Now what?

Pertanyaan yang bakal hadir selama beberapa hari setelah melewati segala penyiksaan thesis dan sidang akhir. Namun daripada menjawab pertanyaan menyebalkan itu, saya justru memilih buat balik lagi ke masa lalu, mengingat banyak hal yang membantu saya hingga sampai ke titik ini (atau mungkin karena saya lagi cari pelarian aja sih biar ga pusing mikirin masa depan. upssss)

Well, mengambil master degree apalagi di jurusan manajemen bukanlah hal yang ada di rencana hidup saya. Boro-boro ambil S2 di fakultas ekonomi, dulu saya memutuskan masuk IPA di sekolah menengah justru karena ingin menghindari pelajaran ekonomi dan akuntansi, bukan karena saya cinta rumus-rumus fisika ataupun segala tetek bengek anatomi manusia di Biologi. Well, that's life, you know. We never end up where you thought you wanted to be. Karena satu dan lain hal saya terpaksa terjebak untuk menyelesaikan kuliah di jurusan yang sangat bertolak belakang dengan pendidikan yang saya tempuh sebelumnya.

Sebagai manusia visual yang benci membaca tulisan banyak-banyak, bersinggungan dengan angka-angka akuntansi, dan menulis paper penelitian, tentu saja keputusan untuk mengambil S2 manajemen dan menyelesaikannya ini penuh dengan drama dan penyesalan (di awal). 

But time did fly, quite unnoticeable, and instead of complaining that the rose bush is full of thorns, I'd be happy that the thorn bush has roses. Karena tanpa sadar pada akhirnya kita akan survive menghadapi segala hal yang ada dihadapan kita. We buried our heads deeply inside the repetitive daily routines and get along with all the problems. At the end of the journey, I can say that sometimes something might seem like bad news, but it could turn out to be a blessing in disguise.

Dan buat saya hal itu yang pertama adalah pertemanan. Dan yang kedua adalah bagaimana saya pada akhirnya bisa ikhlas dan menerima segala hal yang di luar ekspektasi saya dan menjadikan itu sebagai batu lompatan untuk membenahi diri saya. 

Tentu saja banyak drama mengiringi perjalanan ini guys :') But I'm forever grateful for everything that happened and I'm deeply thank full for everyone I had these past 2 years. 

We all go through hard times in life. It's a part of being alive and it's the reality we all have to deal with. It's a cliche, but believe me, along this path of darkness there's always light waiting to be seen. It may be hiding behind those circumstances that we encounter: in a stranger we just met at an unexpected place, family who has been always there but you always ignored, a friend you have these whole time or friend you just met. Just open your heart you'll see how blessed you are to have them all in your life. 

Dimulai dari postingan ini, saya akan menuliskan beberapa tulisan pada postingan-postingan berikutnya sebagai appreciation post kepada orang-orang penting di hidup saya beberapa tahun terakhir :) Because we've been through this roller coaster since two years ago (and yes we finally made it guys, those tears during our college-life have paid off. Lol! )



Cheers,
Tissaflo


Sabtu, 18 Mei 2019

#np Hapiness-Rex Orange County 🎢





Upon waiting for my Indomie to finish cooking this afternoon, I opened my Instagram and found an interesting DM from a friend who i rarely talked to, stating : 

"Hidup anda kayaknya membahagiakan ya tis. Banyak orang yang sayang kamu, kasih hadiah dengan berbagai media dan output. Sungguh mengharukan". 

I did a long pause after read all of those words. 

Some people didnt know what other people have been thru and I dont  blame them for not understand. But suddenly it stroke me right away: the slight relief sense in my heart. 
Why? Because things have been crazy lately. I've been upset bout so many things and i have no idea how to work through all of these things alone. I try not to complain a lot. Try to vibes alone and not depend to other people. But everything's so complicated and i always think that i can't survive :(

Percayalah, menuju 27 adalah beban terberat yang pernah saya alami menjelang ulang tahun. I'm feeling like i have no achievement beside staying alive and sane, dan segala ke-overthinking-an ini membawa saya ke satu hal : at some point, i feel like i lost my self-worth. 

DM tersebut membuat saya benar-benar sadar bahwa saya seharusnya bisa sangat lebih bersyukur melewati usia 27 ini. 

Teringat pembicaraan 6 bulan lalu sebelum saya berulang tahun ke 27. My ex-boyfriend told me to call-off the wedding 2 Months before the wedding ceremony. The worst part of everything was, when I asked "why?", He replied with "aku belom siap."

Lah kalau belum siap, kenapa baru bilang sekarang? setelah semua vendor sudah di DP dan semua persiapan sudah hampir selesai. Dari semua alasan yang dia list kenapa dia belom siap menikahi saya, ada satu hal yang membuat saya ingin tarik napas dan kipas-kipas kepala saya yang udah pengen meledak. 

He said, "Aku ingin hidup aku terus maju dan aku pengen punya pendamping hidup yang bisa mengimbangi aku yang terus maju, terus punya achievement. Kamu bisa? Kamu memang udah tau tujuan hidup kamu apa? Achievement kamu apa aja? Ya kalau kamu bisa ya gapapa. tapi yakin kamu bisa mengimbangi?".

9 tahun pacaran. Ngelewatin segala ups and downs bareng dari jaman dia belum sukses sampai dia sukses dan pada akhirnya yang di pertanyakan adalah achievement saya yang gabisa mengimbangi dia.

I dont know how to react to that actually. Bukan salah dia sih punya pemikiran kayak gitu, wajar. Dia pengusaha yang lagi ada di puncak karir, pengen punya pendamping hidup yang selevel ya wajar demi keberlanjutan usaha dan karir dia. Tapi ternyata buat ga sakit hati di bilang kayak gitu itu susah juga ya. Haha. Dan pada posisi ini pun kenyataannya ya memang begitu : I have no achievement. Saya baru satu semester menempuh pendidikan di S2 (pun itu dia yang suruh), I have no job, no money. Hidup mandiri tiap bulan aja masih berdarah-darah, masih nabung berhemat biar ga hedon tiap bulan. Sedangkan hampir semua teman dekat di usia saya sudah mapan bekerja, menikah, punya anak, membahagiakan orang tua. Where was I?

2018 adalah tahun tergila buat saya. Posisi gapunya eksistensi hidup apapun. No achievement. Perkara masalah menikah yang gagal pun membawa saya untuk menjauhkan diri dari orang sekitar. Segan sama orang tua saya dan keluarga terdekat saya, menarik diri dari lingkungan pertemanan cuma karena saya malas ditanya "Tissa kapan jadinya nikah?" (Percayalah perkara ini saya cuma cerita sama 2 orang terdekat saya, yang saya tau kira-kira ketika saya cerita, mereka ga akan banyak mengajukan pertanyaan). Jadi, awal tahun 2018 saya jungkir balik sendirian, nata perasaan dan otak saya biar bisa survive ngelewatin hidup dengan normal tanpa ngeluh kesana sini.
Di otak pikirannya cuma satu : Maybe you'll think you wont survive, but then you survived. Eventually.

Modalnya bener-bener cuma ikhlas doang. Walaupun susahnya banget, terutama karna menikah beda banget sama putus. Urusannya ga cuma menyangkut saya dan mas (mantan) pacar, tetapi juga keluarga dan orang tua. Patah hatinya ngeliat orang tua saya patah hati lebih bikin patah hati daripada saya yang harusnya patah hati karna gagal nikah. 

But here we are. Di ulang tahun ke-27 yang saya kira ga bakal bisa di lewati dengan baik, ternyata menurut orang lain, hidup saya terlihat cukup bahagia. Karena percayalah, pada akhirnya hidup bahagia itu ga harus se cheessy you met your soulmate then lived happily ever after doang. Bisa melewati semuanya dengan normal, staying sane di kondisi yang harusnya kamu bisa ngamuk-ngamuk nangis nangis sampe abis air mata, dan tetap bisa bersosialisai dengan normal dan berteman dengan baik sama orang lain juga adalah bentuk hal yang harus disyukuri.

Pada akhirnya bahagia itu perkara sesimpel menerima diri sendiri, dan segala flaws nya. pelan-pelan menata tujuan hidup lagi, menata kepercayaan diri lagi buat punya goal di dalam hidup lagi. Pelan-pelan ngurangin baggage biar nantinya ga ngerusak ritme relationship berikutnya.

And thank god, I survived. 2019, Still no achievement (yet) sih, selain sedang berjuang lulus. Bersyukur punya orang-orang yang bisa paham sama semua hal-hal yang saya lalui diatas dan jadi best support system sampai sejauh ini.

Just pretend you are fine, until you really are :)


Xoxo,
Tissaflo

( Tulisan ini seharusnya ditulis setahun lalu di ulang tahun saya yang ke-27, tapi karena kesibukan yang super duper gabisa di sela, jadi baru bisa saya selesaikan dan posting. Sekedar berbagi cerita dan juga pengingat terutama buat diri saya sendiri : Saya pernah merasa hampir putus asa, tapi pada akhirnya semua bisa tertata baik-baik dan paham bahwa yang dicari bukan sempurna dan berbahagia di akhir cerita, tetapi justru bahagia melewati segala prosesnya ketika pelan-pelan kamu bisa menata hidupmu lagi dengan sedikit lebih baik).

Here and There, in Seoul ❥

Well, this post was about my trip to Seoul. Nothing much, just random snaps. Many seconds were spent waiting the bus, strolling the street of Seoul, buying any delicious and tempting street foods, the culture, the street-life, all the facades along the way, and more and more ❥

Bukchon Hanok Village. One of Korean Traditional Village in Seoul. 

Another (modern) side of Bukchon Village.



The modern Korean Tteobokki shop version (left) and The street food style (of tteobokki) cart version 

Interesting. cant read who was here tho
This pretty much reminds me of some scenes in Page Turner (well, i'm bit fan of Kim So hyun. Lol)



Honestly, Korea wasnt as good as I expected (maybe because I didnt explore much), but I still enjoy the trip. Sometimes it takes awhile to step back and notice the beauty in all ordinary moments tho.

xoxo,
Tissaflo 

Senin, 22 April 2019

Seoul, 2019.



The glimpse of Seoul according to my Fuji disposable camera. 2019.
(Ps. The original tone of fuji is so good, I didnt even need to edit them)

Minggu, 21 April 2019

I guess I just Feel like




Sebuah sore manis ketika kita berkendara di Yogyakarta. Iseng mencoba disposable camera baruku sembari bilang "Aku mau coba foto, tapi jangan foto berdua. Mau foto kamu aja, soalnya ini gabisa dihapus." 

karna tentu saja kita tau sore seperti ini bisa jadi tidak akan ada lagi. 
Tapi bukan berarti tidak bisa dinikmati dan diabadikan :)

Well, I know. Everything's dark and blurry, but believe me, the feelings are real. 



Sabtu, 03 Maret 2018

ゆらゆら





Tadi pagi saya dibangunkan oleh teman saya yang tiba-tiba chat saya mengirimkan sebuah link video. Sebuah lagu jepang berjudul γ‚†γ‚‰γ‚†γ‚‰ ( Yu ra Yu ra). Sembari dia bilang "Hidup kamu selucu ini ngga?". Setengah tidur, saya buka videonya. Bianglala, apartemen minimalis khas jepang, eskrim di taman ria, kereta, dan stasiun sukses bikin saya flashback ke dua tahun lalu. waktu patah hati, entah yang ke berapa juta kalinya selama 8 tahun pacaran. 

Persis seperti di videoclip γ‚†γ‚‰γ‚†γ‚‰, saya patah hati, bangun tidur sambil setengah bengong masih berusaha mencerna sebenarnya saya ini ngapain sih. Setelah kira-kira 30 menit guling-guling dikasur sambil pelukin teddy bear, saya sikat gigi, mandi, beres-beres apartemen, pergi ke arah stasiun sambil mampir sebentar beli sarapan onigiri isi ebi mayo sama milk tea di family mart. 

Di kala sedang sedih, saya pasti akan langsung menuju Harborland. Taman hiburan mini dekat dari apartemen saya yang posisinya terletak di pinggir pelabuhan, hanya berjarak satu stasiun saja dari apartemen saya. Saya beli eskrim, pergi ke museum anpanman, lihat-lihat bazar, dan berakhir duduk di bianglala sendirian. Antrian bianglala diisi oleh pasangan-pasangan dan beberapa ibu-ibu bawa anak, dan untuk pertama kalinya di jepang saya merasa awkward berada di suatu tempat sndirian. Biasanya banyak orang di Jepang melakukan kegiatan di ruang publik sendirian. Pergi ke restoran, ke cafe, di kereta, even ke tempat hiburan pun banyak yang sendirian. Tapi ternyata memang tidak ada yang naik bianglala sendirian (Lol)

Biarpun begitu, malunya antri sndirian ketika akan naik bianglala terbayar oleh pemandangan Kobe yang disuguhkan dari atas bianglala. Itu adalah kali kedua saya naik bianglala di harborland. Kali pertama adalah di malam tahun baru dan saat itu saya terlalu takut sendirian di dalam bianglala yang goyang-goyangnya super ga santai, sampai sampai saya video call ke indonesia demi minta ditemani sampai saya turun dari bianglala. Kali kedua ini, saya tidak setakut waktu pertama. Setiap kali akan ada guncangan, saya akan memperbaiki posisi duduk ke tengah, kemudian meyibukkan diri dengan kamera hape saya. Sama seperti patah hati saya. Ini bukan kali pertama, sama sedihnya, tapi saya tidak menangis seperti kali pertama dan rasanya cukup bisa meng handle kesedihan saya. 

2 kali putaran bianglala cukup memberi waktu saya untuk mencerna keadaan saya saat itu. Turun dari bianglala, sedih saya belum hilang tapi saya tahu bahwa saya pasti akan survive. life has its ups and downs, i just need to hang in there. Hal paling berat saat itu adalah saya sendirian, tidak punya teman dekat, tidak ada keluarga di dekat saya. Hal paling menghibur hanyalah pekerjaan saya yang terlampau menyenangkan. Setelah pulang dari kantor saya bisa lari ke Harborland untuk melihat bianglala dan saya rasa itu cukup membuat otak saya sibuk dan lupa kalau sedang patah hati.

Setelah puas menaiki bianglala dan berputar-putar di Harborland hari itu, saya mampir beli takoyaki untuk makan malam, dan akhirnya memutar Friends seperti biasanya. Saya ingat waktu itu saya nonton berepisode-episode Friends sampai tertidur.

and that's how i survived from broken heart. Yes, it sucks, but it's not the end of the world, huh?



***********


Hari ini, 2 tahun setelah kejadian itu saya patah hati lagi dan hanya terjebak di kamar bersama tumpukan buku-buku finance dan tugas-tugas yang selalu bikin saya merasa seperti salah masuk jurusan. Sayang sekali tidak ada bianglala hari ini.


心配させてね. γ‚‚う一度だけ :)