Senin, 30 Agustus 2021

August Rain

To the sweetest picture we've ever taken together. There's a million things i wanted to say to you. and a million more for being sucha wonderful person (to me). Someone I could go to when I'm sad. or angry (lol). or hungry for that matter, because you feed me a lot (yes, you do!! ). 

I do love you, R.


Senin, 23 Maret 2020

Last Chapter: Shallow - Bradley Cooper Ft. Lady Gaga ♥ (A short story about Rafa)


"Kenapa tiba-tiba ke gelato?"
"Biar kamu ga protes."
"Protes apaan?"
"ya itu, dari kemarin kan kamu nolak jawab mau jadi pacar aku ngga cuma gara-gara maunya di tempat bagus biar bisa pamer ke didit"
"yajugaya. Kalo aku jawab disini bagus sih buat pamer ke didit".
"nah tuh. kalo gitu mau jadi pacarku di sini ngga?"
"yaudahlah yuk."

We've been goofing around back then. It's been a year after that and we're still together. For some people, a year is nothing. Some people might say, "Yaelah cuma setaun doang ngapain dirayain sih". Well, just to be clear, it's not a celebration, it's just some kind of appreciation post and the way to express how gratefull I am that finally have someone who accepts all my baggages and quirks.
Satu tahun adalah satu check point yang harus dijadikan catatan terutama untuk diri sendiri bahwa iya, jatuh cinta itu mudah. Menyukai seseorang juga mudah. Tapi percayalah, pada satu titik di hidup kamu, kamu akan paham kenapa pada akhirnya harus dia dan gabisa yang lain. 

So, hey, Thank you. For slowly making your way through my life, for making me laugh--and the most important---for making me happier :)

I know that I’m not the first person you ever loved. You are not the first person I looked at with a mouthful of forevers too. We have both known loss like the sharp edges of a knife. We both carry scars from the past. But I believe everything happens for a reason and I know you happened for a good one.

Yang paling sabar ngadepin rewelnya aku tiap hari: bingung makan apa, bingung mau ngapain, bosan, kepanasan, mewek waktu pertama kali dateng ke tempat gym karena panik takut liat banyak banget mas-mas berotot sampe doi bela-belain nemenin (padahal kita member di gym yg berbeda).

Yang setiap pergi kemanapun pasti hampir selalu nawarin: Kamu mau kubeliin makanan apa? mau yakult? mau donat? mau tteobbokki? mau sushi?

Yang selalu dan selalu mau nyetirin kemana-mana karena tau aku adalah manusia yang paling ga suka nyetir bahkan tanpa aku minta, setiap dia bisa dan ada waktu pasti akan selalu nawarin untuk nemenin.

Yang walaupun kita sama-sama tau kalo kita sering banget beda sudut pandang dan berdebat tapi selalu diakhiri dengan dia senyum terus bilang: udahan debatnya? mau peluk aku ngga? Manusia tersabar yang akhirnya juga bikin aku ngerem buat lebih ngurangin marah-marah (tapi mah gimana anaknya emang dasarnya suka ngegas :p). But heeey at least kita kan sama-sama menuju jadi lebih baik haha


Anyway, if the terms 'forever' is overrated, how about having gelato every month or a box of doughnuts every sunday morning till the day one of us would die? 

Fun fact: kita sebenarnya dari kemarin masih berdebat setahunnya tuh bulan ini atau bulan depan karena kok ya sama-sama ga ngeh kapannya, jadi anggap saja hari ini lah ya.

xoxo,
Tissaflo.


Jumat, 22 November 2019

Chapter 04: Sweet Creature - Harry Styles ♥ (A short story about Famanil)



"If the grass look greener on the other side, stop staring. Stop comparing. Stop complaining. Start watering the grass you're standing on."

Dua tahun temenan sama Een, quotes itu yang pertama kali melekat di pikiran saya. Pertama kali temenan pasti langsung mikir iya sih she deserves every good things in the world karena dia terlalu sweet dan baik jadi karma baik kayak selalu menyertai. Pernah satu waktu ngerasa hidup lagi super chaos dan hampir semua orang juga hidupnya unstable, terus ngeliat Een dan mikir : Ya ampun ya manusia ini hidupnya semulus dan sestabil itu. She must have done something good to deserve such a beautiful life. Karena percayalah, diantara kita semua hanya Een yang hidupnya (terlihat) baik-baik saja dan stabil. Dari love-life, akademis, keluarga dan pertemanan, cuma Een aja yang kayaknya jarang banget terdengar permasalahan (atau mungkin dia cuma gapernah ngeluh aja sih haha).


Tapi begitulah. Rumput tetangga pasti akan terlihat lebih hijau daripada milik kita sendiri, kan?
Semakin dekat sama Een, semakin saya tau bahwa hal-hal yang kita lihat mulus-mulus aja itu juga bukannya terjadi gitu aja. 

Immersion bareng dan satu bimbingan bikin saya sadar kalau nilai-nilai akademik dia yang bagus juga bukannya jatuh gitu aja dari langit. Di saat kita semua sibuk main, nonton, makan, hangout, ngurusin ini dan itu yang lain, dia bisa begadang dan ngunci diri berhari-hari di kamar demi ngerjain laporan ataupun begadang tulis thesis.

Saya yakin love-life yang kita lihat baik-baik saja pun pasti dibangun dengan kerja keras bertahun-tahun. Ngga semua orang bisa bertahan LDR apalagi di usia pacaran yang terbilang sudah lama dan mereka berhasil baik-baik aja melawan jarak. Distance is for those who are willing to spend time alone in exchange for a little time with the one they love. Menjaga hubungan (apalagi jarak jauh) tentu saja butuh kerja keras dan usaha. Ngga pernah sih sekalipun lihat Een main-main sama cowo lain untuk flirting. Ngga pernah juga lihat dia aneh-aneh yang bakal mengancam keharmonisan hubungan dia sama Ici, haha. Jadi wajar kalau hubungannya juga pasti mulus-mulus aja. Again, nothing is impossible with hardwork (and commitmen).

Jujur saja, selama dua tahun berteman mungkin justru disaat-saat terakhir menjelang lulus baru bisa dikatakan dekat dan benar-benar kenal sama Een. Walau begitu, dari awal, impresi untuk Een sudah jelas: dia ramah dan menyenangkan. Beda tipe dengan menyenangkannya Karina dan Kikinyo yang lebih ke arah happy vibes. Een is more passive and emphatetic, she's a good, warm-hearted woman. Menyenangkan tapi juga menenangkan. Dan sejauh ini impresi itu tetap ga hilang dan berubah :)

Saya ingat tahun lalu waktu saya lagi ada di titik terendah hidup saya dan waktu itu kita berempat lagi belajar bareng terus bosan dan akhirnya malah ngobrol ngalor ngidul yang berakhir curhat soal kehidupan saya saat itu. Dimana harusnya saya yang sedih tapi malah Een yang nangis saking ngga teganya dia denger ceritanya. Antara kocak tapi juga terharu terus pengen melukin karena kenapa manusia ini sungguh sangat sweet :>

Dan itupun yang menjawab kenapa manusia ini bisa dikelilingi banyak manusia-manusia baik yang akhirnya juga menawarkan banyak hal-hal baik di hidup dia :) 

And I'm glad to know that. Bahwa hidupnya yang mulus dan baik memang sudah selayaknya dirasakan oleh Een. Bukan karena keberuntungan semata. Bahwa yang bawa hal-hal baik di kehidupan dia memang berasal dari dia yang baik ke sekitar dan ke hidupnya sendiri. Bahwa saya yakin hal itu ga akan pernah berhenti sehingga hal-hal baik juga ngga akan pernah berhenti hadir di hidup Een :)




Because she's a sweet creature. And she's the kind of person that you always want to be happy. 

Semoga selalu dan selalu di kelilingi banyak orang baik dan hal baik di sekeliling Een. 
Jangan lupa rumputnya disiram ya, Een, biar selalu hijau ♥


Xoxo,
Tissaflo


Kamis, 24 Oktober 2019

Chapter 03: Happy - Mocca ♥ (A short story about Karina)


Daripada berteman, mungkin bakal lebih pas kalau pakai istilah "dipungut". Begitulah awal saya dan Karina jadi teman dekat. Waktu itu saya lagi duduk sendirian jajan di Studen Lounge dan karina masuk sambil bilang "Sendirian mulu, ayolah sini kita main bareng". Trus langsung ngikut karina kemana-mana kayak anak kucing gapunya tujuan selama satu semester. Iya, percayalah hidup saya di awal S2 semenyedihkan itu ternyata kalau diingat :') I'm not the most sociable person since my day as a kid.

Meskipun begitu ke-apatisan saya ini bisa diimbangi dengan baik oleh Karina yang ga pernah bosen bersosialisasi sama manusia lain. Tiap saya ga mau bersosial, pasti langsung digeret buat dikenalin sama semua orang. Aslik sih beneran literally digeret keman-mana dikenalin sama random people yang ada dikampus (yang maaf ya, sebagian besar saya bahkan lupa saking begonya kalo disuruh ngehapal nama dan muka orang :| ). Ga pernah absen diajak kemana-mana dan diajak ngobrol apa aja. 

I love her vibes. Her vibe is attractive and it seems like she always radiates positive energy to people around her. Percayalah itu bukan traits yang bisa dengan mudah dimiliki semua orang. Wajar kalau banyak yang sayang dan bahagia hidup di sekitar Karina :)

Selama 2 tahun kuliah pun saya belum pernah ngeliat dia nangis yang beneran nangis berurai air mata, mau sesedih apapun, dimarahin kayak apapun, atau sebingung apapun pasti bakal direspon sama bocahnya cuma dengan cengengesan. Walaupun beberapa kali ngeluh sedih, bete, patah hati, kecewa atau apapun tapi nangisnya bener-bener disimpen cuma buat dia sendiri. Begitu cerita besoknya tetep aja mukanya cengengesan. Kadang tuh kayak pengen ngumpetin dia dimana gtu biar ga dijahatin sama dunia. Bocahnya terlalu polos buat hidup di dunia yang kejam :(

Buat saya, Karina adalah pembuka jalan saya pada kehidupan S2 yang menyenangkan, yang menurut saya jadi salah satu momen menyenangkan di hidup saya. Kalau ngga dipungut di awal perkuliahan mungkin saya masih apatis dan cuma mikir yang penting kuliah aja tanpa merasakan punya teman-teman yang super care.

Begitu lulus jelas pasti bakal super kangen sama kebawelan bocah ini. Perbincangan random di mobil dari kampus sampe kosan, kepanikan-kepanikan yang dirasakan bersama selama kuliah dan ngerusuhin yose buat bantuin ini itu, yang sama-sama nangis bareng waktu ngehapalin materi-materi ujian yang banyak banget, lari-lari telat ke konser, nyobain makanan ini dan itu lewat gofood, di keluhin berbagai kisah cintanya dia sampe kadang saya pengen teriak "Ya ampun udah deh karin tinggalin aja cowo ga cuma doi" tapi pada akhirnya tetep berakhir di dengerin aja karena orang jatuh cinta ga bakal bisa di omongin, bisanya ditangkep klo bsok udah jatuh ke jurang :')



Semoga masih sempat main ke bianglala dan masak churros bersama suatu hari nanti sebelum sama-sama menua dan melupakan ya.

If one day you lose your way, just remember that I'm here to stay.
Don't you give up, keep your chin up and be happy yaaaaaaa.
Doa-doa baik menyertai Karina. I Love you ;)


Xoxo,
Tissaflo




Kamis, 10 Oktober 2019

Chapter 02: I'll be there for you - The Rembrandts ♥ (A short Story about Yose)



"When you do one good deed, it creates a ripple effect. 
One good deed leads to another and another"

I remember marshall ericksen said that to Ted once, and I always remember that quotes everytime I remember him. 

Him. Yosaphat Carlo Wardhana. So, this is another appreciation post series. Pertama kali kenalan di Business Fun Game waktu masuk S2, Saat itu saya sempat kesal sama pria ini. Disaat semua orang sibuk kenalan, beramah tamah dan berbasa basi, cuma dia doang yang melipir pergi pas diajak ngobrol. Waktu itu saya ingat duduk bersebelahan, ngajak ngobrol dan (berusaha) ramah, tapi dibalas dengan ditinggal pergi gitu aja ditengah pembicaraan. Kan jadi mikir salah saya apa ditinggal gitu aja ditengah ngobrol. How rude, Yos! :')

Taunya manusia menyebalkan itu satu kelas sama saya dan setengah semester berikutnya saya ingat kami berdua ga pernah saling sapa. Selain karena saya juga ga terlalu banyak berinteraksi sama manusia lain di kelas, juga karena entah kenapa manusia itu hilang di radar pertemanan saya semenjak peristiwa ditinggal itu.  

Ya gimana, saya kira dia ignorance banget dan ga peduli sama sekitar. Jadilah mungkin alam sadar saya juga ikutan ga peduli (iya sih ini jahat banget, siapalah saya ini ngejudge orang seenaknya ahahaha, maapkan Yos). Turning pointnya adalah ketika kita rame-rame pergi ke dieng, duduk di satu elf yang sama. Saya ingat waktu itu semua anak-anak cowo duduk di belakang karena bagian depan di akuisisi oleh cewe-cewe dan juga karena kursi belakang punya space untuk kaki yang lebih luas. Kebetulan salah satu teman yang duduk di bangku sebelah saya (cewe) minta tukar kursi karena kurang nyaman. Yose adalah satu-satunya yang dengan sukarela mau tukar tempat duduk ke depan, dimana kursi depan jelas lebih sempit apalagi buat kakinya yang panjang :') Jadilah berjam-jam dia duduk tersiksa di kursi sempit itu, sepanjang perjalanan dari dieng sampai jogja. Tanpa ngeluh tapi keliatan banget mukanya tersiksa dan ga nyaman. And that is one "good deed" I talked about yang akhirnya bikin saya dan Yose mendadak jadi teman akrab setelahnya. One good deed yang dilakuin Yose hari itu emang sepele sih. Mungkin dia sendiri pun ga sadar kalau itu pada akhirnya dengan sederhana bisa merubah impresi orang lain terhadap dia. Once I though he was just that cold hearted guy, turns out saat ini dia adalah salah satu orang yang paling care di hidup saya. 24/7 siap ngederin dan ngebantuin segala hal. Bukan cuma sama saya, tapi sama semua orang. 

And I'm blessed that i've got him as one of my bestfriend. 

Dari mulai cuma sekedar obrolan ga penting, jokes receh menyebalkan-nya dia yang selalu bikin muka aku -__________- (like i said before, yos. I dont think my sense of humor is good enough, but you really need to upgrade yours. Lol), sampe ke nemenin saya kemana-mana pas patah hati: di chat tiap jam, di jemput tiap hari cuma biar saya ga melakukan hal bodoh karna patah hati :')

Thank you for made me feel less alone as I found my way to rebuild my life around. Terimakasih sudah menjadi teman selama 2 tahun terakhir. Walaupun aku suka berisik dan menyebalkan, tapi percayalah kamu selalu ada di dalam doaku biar hidupnya selalu bahagia (terutama bagian jodoh dan karir haha).

Thank you for always being you! 


Cheers,
Tissaflo

Chapter 01 : Fake Optics - Ardhito Pramono ♥ (A Short Story about Kikinyooo)




Pertemuan pertama saya dengan Kikinyo bukanlah suatu hal yang cukup istimewa untuk diingat. Semua terjadi sambil lalu dan saya selalu merasa kalau she's just that popular girl with all the privileges: pretty, rich, get along well with other people, and loves the spotlight. Dimana saya bukanlah tipe yang akan berinteraksi terlalu dekat dengan banyak orang-orang populer seperti itu. I hate the spotlight and I hate to do a little talk to strangers. I always think i need a book about how to mingle with other human everytime i have to meet a bunch of people in some social events dan Kikinyo adalah kebalikan dari saya. She loves the crowd and she can handle the situation well. Sebagai pecinta rom-com dan segala film drama bernuansa teenlit, udah bakal kebayang banget kira-kira doi bakal jadi peran yang semacam apa. She'll be that poppy moore in Wild Child or Elle wood in Legally Blonde (and I'll be that drippy girl who loves to finished all the leftover ice cream inside the dorm's refrigerator). Tipikal cewe-cewe yang punya geng perempuan yang hobi belanja dan dandan, party goers, idaman para senior populer, self-centered dan sebagainya.

But, no. Setelah 2 tahun terakhir menghabiskan sisa hidup perkuliahan S2 saya dengan Kikinyo, membuat saya berpikir bahwa dia justru lebih mirip Rachel Green di series Friends. If you ever watched the Friends Series, you'll find that Rachel Green has a very-very great character development amongs the other cast on that tv show. She goes from marrying for money to a full-fledged career woman.

While there are countless "poor little rich girl" characters in film and television shows, Rachel Green feels very unique. She does have some trials and tribulation since she break ups with her rich-fiance in the begining of the show, and since she works as a waitress and does struggle before she gets her dream job and settle, I dont feel like she simply gets everything handed to her.

All the first impressions were just fake optics. Saya tahu bahwa kehidupan teman saya ini pun tidak semudah yang saya judge di awal pertemuan. She didnt simply get all the privileges handed to her. Semakin hari pun saya meyakini bahwa dia semakin bekerja keras untuk mendapatkan semuanya-- Karir dan segala pencapaiannya. Because you know, you don't have to be great, you just have to have the will to constantly improve yourself.

2 tahun struggling bareng di dunia perkuliahan membuat saya sadar bahwa setiap orang punya kisah struggle-nya masing-masing. Kikinyo adalah satu dari sekian banyak teman saya yang membuat saya banyak belajar baik dari gimana cara dia berprogress dan juga gimana dia nge-treat orang lain dengan baik.

She's smart, fashionable, ditzy and a great friend indeed ♥



Only 2 years but she has witnessed me going through heartbreaks and dissapointments, understand how sometimes I could be so unlovable (ga keitung berapa kali udah kikinyo kena marah-marahnya aku kalo lagi super cranky hahaha maapkan ya :')

Saya ingat saya pernah jadi manusia super menyebalkan seharian dan kinyo kena dampak omelan saya hari itu. Saya sadar betul orang lain mungkin bakal kesal dan mungkin balik marah atau malah jadi jauh. But she didnt. Gantinya justru seplastik penuh makanan kesukaan saya (dan warnanya kuning semua) dan simple notes bertuliskan: I know you have a bad day, I hope these things will brighten your mood. Langsung mewek di tempat :')

Every time I felt broken and defeated, she reminded me that I was worthy of someone better, because of the way she treats me.

And I will always remember that. I hope that there would be more women supporting each other like this during all the challenging and confusing time of our lives. Cheers!


xoxo,
Tissaflo





An opening to a new Chapter ♥



I'm graduating. Now what?

Pertanyaan yang bakal hadir selama beberapa hari setelah melewati segala penyiksaan thesis dan sidang akhir. Namun daripada menjawab pertanyaan menyebalkan itu, saya justru memilih buat balik lagi ke masa lalu, mengingat banyak hal yang membantu saya hingga sampai ke titik ini (atau mungkin karena saya lagi cari pelarian aja sih biar ga pusing mikirin masa depan. upssss)

Well, mengambil master degree apalagi di jurusan manajemen bukanlah hal yang ada di rencana hidup saya. Boro-boro ambil S2 di fakultas ekonomi, dulu saya memutuskan masuk IPA di sekolah menengah justru karena ingin menghindari pelajaran ekonomi dan akuntansi, bukan karena saya cinta rumus-rumus fisika ataupun segala tetek bengek anatomi manusia di Biologi. Well, that's life, you know. We never end up where you thought you wanted to be. Karena satu dan lain hal saya terpaksa terjebak untuk menyelesaikan kuliah di jurusan yang sangat bertolak belakang dengan pendidikan yang saya tempuh sebelumnya.

Sebagai manusia visual yang benci membaca tulisan banyak-banyak, bersinggungan dengan angka-angka akuntansi, dan menulis paper penelitian, tentu saja keputusan untuk mengambil S2 manajemen dan menyelesaikannya ini penuh dengan drama dan penyesalan (di awal). 

But time did fly, quite unnoticeable, and instead of complaining that the rose bush is full of thorns, I'd be happy that the thorn bush has roses. Karena tanpa sadar pada akhirnya kita akan survive menghadapi segala hal yang ada dihadapan kita. We buried our heads deeply inside the repetitive daily routines and get along with all the problems. At the end of the journey, I can say that sometimes something might seem like bad news, but it could turn out to be a blessing in disguise.

Dan buat saya hal itu yang pertama adalah pertemanan. Dan yang kedua adalah bagaimana saya pada akhirnya bisa ikhlas dan menerima segala hal yang di luar ekspektasi saya dan menjadikan itu sebagai batu lompatan untuk membenahi diri saya. 

Tentu saja banyak drama mengiringi perjalanan ini guys :') But I'm forever grateful for everything that happened and I'm deeply thank full for everyone I had these past 2 years. 

We all go through hard times in life. It's a part of being alive and it's the reality we all have to deal with. It's a cliche, but believe me, along this path of darkness there's always light waiting to be seen. It may be hiding behind those circumstances that we encounter: in a stranger we just met at an unexpected place, family who has been always there but you always ignored, a friend you have these whole time or friend you just met. Just open your heart you'll see how blessed you are to have them all in your life. 

Dimulai dari postingan ini, saya akan menuliskan beberapa tulisan pada postingan-postingan berikutnya sebagai appreciation post kepada orang-orang penting di hidup saya beberapa tahun terakhir :) Because we've been through this roller coaster since two years ago (and yes we finally made it guys, those tears during our college-life have paid off. Lol! )



Cheers,
Tissaflo


Sabtu, 18 Mei 2019

#np Hapiness-Rex Orange County 🎶





Upon waiting for my Indomie to finish cooking this afternoon, I opened my Instagram and found an interesting DM from a friend who i rarely talked to, stating : 

"Hidup anda kayaknya membahagiakan ya tis. Banyak orang yang sayang kamu, kasih hadiah dengan berbagai media dan output. Sungguh mengharukan". 

I did a long pause after read all of those words. 

Some people didnt know what other people have been thru and I dont  blame them for not understand. But suddenly it stroke me right away: the slight relief sense in my heart. 
Why? Because things have been crazy lately. I've been upset bout so many things and i have no idea how to work through all of these things alone. I try not to complain a lot. Try to vibes alone and not depend to other people. But everything's so complicated and i always think that i can't survive :(

Percayalah, menuju 27 adalah beban terberat yang pernah saya alami menjelang ulang tahun. I'm feeling like i have no achievement beside staying alive and sane, dan segala ke-overthinking-an ini membawa saya ke satu hal : at some point, i feel like i lost my self-worth. 

DM tersebut membuat saya benar-benar sadar bahwa saya seharusnya bisa sangat lebih bersyukur melewati usia 27 ini. 

Teringat pembicaraan 6 bulan lalu sebelum saya berulang tahun ke 27. My ex-boyfriend told me to call-off the wedding 2 Months before the wedding ceremony. The worst part of everything was, when I asked "why?", He replied with "aku belom siap."

Lah kalau belum siap, kenapa baru bilang sekarang? setelah semua vendor sudah di DP dan semua persiapan sudah hampir selesai. Dari semua alasan yang dia list kenapa dia belom siap menikahi saya, ada satu hal yang membuat saya ingin tarik napas dan kipas-kipas kepala saya yang udah pengen meledak. 

He said, "Aku ingin hidup aku terus maju dan aku pengen punya pendamping hidup yang bisa mengimbangi aku yang terus maju, terus punya achievement. Kamu bisa? Kamu memang udah tau tujuan hidup kamu apa? Achievement kamu apa aja? Ya kalau kamu bisa ya gapapa. tapi yakin kamu bisa mengimbangi?".

9 tahun pacaran. Ngelewatin segala ups and downs bareng dari jaman dia belum sukses sampai dia sukses dan pada akhirnya yang di pertanyakan adalah achievement saya yang gabisa mengimbangi dia.

I dont know how to react to that actually. Bukan salah dia sih punya pemikiran kayak gitu, wajar. Dia pengusaha yang lagi ada di puncak karir, pengen punya pendamping hidup yang selevel ya wajar demi keberlanjutan usaha dan karir dia. Tapi ternyata buat ga sakit hati di bilang kayak gitu itu susah juga ya. Haha. Dan pada posisi ini pun kenyataannya ya memang begitu : I have no achievement. Saya baru satu semester menempuh pendidikan di S2 (pun itu dia yang suruh), I have no job, no money. Hidup mandiri tiap bulan aja masih berdarah-darah, masih nabung berhemat biar ga hedon tiap bulan. Sedangkan hampir semua teman dekat di usia saya sudah mapan bekerja, menikah, punya anak, membahagiakan orang tua. Where was I?

2018 adalah tahun tergila buat saya. Posisi gapunya eksistensi hidup apapun. No achievement. Perkara masalah menikah yang gagal pun membawa saya untuk menjauhkan diri dari orang sekitar. Segan sama orang tua saya dan keluarga terdekat saya, menarik diri dari lingkungan pertemanan cuma karena saya malas ditanya "Tissa kapan jadinya nikah?" (Percayalah perkara ini saya cuma cerita sama 2 orang terdekat saya, yang saya tau kira-kira ketika saya cerita, mereka ga akan banyak mengajukan pertanyaan). Jadi, awal tahun 2018 saya jungkir balik sendirian, nata perasaan dan otak saya biar bisa survive ngelewatin hidup dengan normal tanpa ngeluh kesana sini.
Di otak pikirannya cuma satu : Maybe you'll think you wont survive, but then you survived. Eventually.

Modalnya bener-bener cuma ikhlas doang. Walaupun susahnya banget, terutama karna menikah beda banget sama putus. Urusannya ga cuma menyangkut saya dan mas (mantan) pacar, tetapi juga keluarga dan orang tua. Patah hatinya ngeliat orang tua saya patah hati lebih bikin patah hati daripada saya yang harusnya patah hati karna gagal nikah. 

But here we are. Di ulang tahun ke-27 yang saya kira ga bakal bisa di lewati dengan baik, ternyata menurut orang lain, hidup saya terlihat cukup bahagia. Karena percayalah, pada akhirnya hidup bahagia itu ga harus se cheessy you met your soulmate then lived happily ever after doang. Bisa melewati semuanya dengan normal, staying sane di kondisi yang harusnya kamu bisa ngamuk-ngamuk nangis nangis sampe abis air mata, dan tetap bisa bersosialisai dengan normal dan berteman dengan baik sama orang lain juga adalah bentuk hal yang harus disyukuri.

Pada akhirnya bahagia itu perkara sesimpel menerima diri sendiri, dan segala flaws nya. pelan-pelan menata tujuan hidup lagi, menata kepercayaan diri lagi buat punya goal di dalam hidup lagi. Pelan-pelan ngurangin baggage biar nantinya ga ngerusak ritme relationship berikutnya.

And thank god, I survived. 2019, Still no achievement (yet) sih, selain sedang berjuang lulus. Bersyukur punya orang-orang yang bisa paham sama semua hal-hal yang saya lalui diatas dan jadi best support system sampai sejauh ini.

Just pretend you are fine, until you really are :)


Xoxo,
Tissaflo

( Tulisan ini seharusnya ditulis setahun lalu di ulang tahun saya yang ke-27, tapi karena kesibukan yang super duper gabisa di sela, jadi baru bisa saya selesaikan dan posting. Sekedar berbagi cerita dan juga pengingat terutama buat diri saya sendiri : Saya pernah merasa hampir putus asa, tapi pada akhirnya semua bisa tertata baik-baik dan paham bahwa yang dicari bukan sempurna dan berbahagia di akhir cerita, tetapi justru bahagia melewati segala prosesnya ketika pelan-pelan kamu bisa menata hidupmu lagi dengan sedikit lebih baik).

Here and There, in Seoul ❥

Well, this post was about my trip to Seoul. Nothing much, just random snaps. Many seconds were spent waiting the bus, strolling the street of Seoul, buying any delicious and tempting street foods, the culture, the street-life, all the facades along the way, and more and more ❥

Bukchon Hanok Village. One of Korean Traditional Village in Seoul. 

Another (modern) side of Bukchon Village.



The modern Korean Tteobokki shop version (left) and The street food style (of tteobokki) cart version 

Interesting. cant read who was here tho
This pretty much reminds me of some scenes in Page Turner (well, i'm bit fan of Kim So hyun. Lol)



Honestly, Korea wasnt as good as I expected (maybe because I didnt explore much), but I still enjoy the trip. Sometimes it takes awhile to step back and notice the beauty in all ordinary moments tho.

xoxo,
Tissaflo 

Senin, 22 April 2019

Seoul, 2019.



The glimpse of Seoul according to my Fuji disposable camera. 2019.
(Ps. The original tone of fuji is so good, I didnt even need to edit them)

Minggu, 21 April 2019

I guess I just Feel like




Sebuah sore manis ketika kita berkendara di Yogyakarta. Iseng mencoba disposable camera baruku sembari bilang "Aku mau coba foto, tapi jangan foto berdua. Mau foto kamu aja, soalnya ini gabisa dihapus." 

karna tentu saja kita tau sore seperti ini bisa jadi tidak akan ada lagi. 
Tapi bukan berarti tidak bisa dinikmati dan diabadikan :)

Well, I know. Everything's dark and blurry, but believe me, the feelings are real. 



Sabtu, 03 Maret 2018

ゆらゆら





Tadi pagi saya dibangunkan oleh teman saya yang tiba-tiba chat saya mengirimkan sebuah link video. Sebuah lagu jepang berjudul ゆらゆら ( Yu ra Yu ra). Sembari dia bilang "Hidup kamu selucu ini ngga?". Setengah tidur, saya buka videonya. Bianglala, apartemen minimalis khas jepang, eskrim di taman ria, kereta, dan stasiun sukses bikin saya flashback ke dua tahun lalu. waktu patah hati, entah yang ke berapa juta kalinya selama 8 tahun pacaran. 

Persis seperti di videoclip ゆらゆら, saya patah hati, bangun tidur sambil setengah bengong masih berusaha mencerna sebenarnya saya ini ngapain sih. Setelah kira-kira 30 menit guling-guling dikasur sambil pelukin teddy bear, saya sikat gigi, mandi, beres-beres apartemen, pergi ke arah stasiun sambil mampir sebentar beli sarapan onigiri isi ebi mayo sama milk tea di family mart. 

Di kala sedang sedih, saya pasti akan langsung menuju Harborland. Taman hiburan mini dekat dari apartemen saya yang posisinya terletak di pinggir pelabuhan, hanya berjarak satu stasiun saja dari apartemen saya. Saya beli eskrim, pergi ke museum anpanman, lihat-lihat bazar, dan berakhir duduk di bianglala sendirian. Antrian bianglala diisi oleh pasangan-pasangan dan beberapa ibu-ibu bawa anak, dan untuk pertama kalinya di jepang saya merasa awkward berada di suatu tempat sndirian. Biasanya banyak orang di Jepang melakukan kegiatan di ruang publik sendirian. Pergi ke restoran, ke cafe, di kereta, even ke tempat hiburan pun banyak yang sendirian. Tapi ternyata memang tidak ada yang naik bianglala sendirian (Lol)

Biarpun begitu, malunya antri sndirian ketika akan naik bianglala terbayar oleh pemandangan Kobe yang disuguhkan dari atas bianglala. Itu adalah kali kedua saya naik bianglala di harborland. Kali pertama adalah di malam tahun baru dan saat itu saya terlalu takut sendirian di dalam bianglala yang goyang-goyangnya super ga santai, sampai sampai saya video call ke indonesia demi minta ditemani sampai saya turun dari bianglala. Kali kedua ini, saya tidak setakut waktu pertama. Setiap kali akan ada guncangan, saya akan memperbaiki posisi duduk ke tengah, kemudian meyibukkan diri dengan kamera hape saya. Sama seperti patah hati saya. Ini bukan kali pertama, sama sedihnya, tapi saya tidak menangis seperti kali pertama dan rasanya cukup bisa meng handle kesedihan saya. 

2 kali putaran bianglala cukup memberi waktu saya untuk mencerna keadaan saya saat itu. Turun dari bianglala, sedih saya belum hilang tapi saya tahu bahwa saya pasti akan survive. life has its ups and downs, i just need to hang in there. Hal paling berat saat itu adalah saya sendirian, tidak punya teman dekat, tidak ada keluarga di dekat saya. Hal paling menghibur hanyalah pekerjaan saya yang terlampau menyenangkan. Setelah pulang dari kantor saya bisa lari ke Harborland untuk melihat bianglala dan saya rasa itu cukup membuat otak saya sibuk dan lupa kalau sedang patah hati.

Setelah puas menaiki bianglala dan berputar-putar di Harborland hari itu, saya mampir beli takoyaki untuk makan malam, dan akhirnya memutar Friends seperti biasanya. Saya ingat waktu itu saya nonton berepisode-episode Friends sampai tertidur.

and that's how i survived from broken heart. Yes, it sucks, but it's not the end of the world, huh?



***********


Hari ini, 2 tahun setelah kejadian itu saya patah hati lagi dan hanya terjebak di kamar bersama tumpukan buku-buku finance dan tugas-tugas yang selalu bikin saya merasa seperti salah masuk jurusan. Sayang sekali tidak ada bianglala hari ini.


心配させてね. もう一度だけ :)

Minggu, 07 Agustus 2016

A Journey to The Wizarding World of Harry Potter

Did you ever sat on your couch on a school holiday, waiting for an owl comes to your house with an envelope marked Hogwart's logo ? Well, i did. Actually I still do sometimes, when i'm in the middle of bad day at work, lots of paperworks that make me want to quit the job and said "Fuck these shits, i'm going to hogwarts !" eventho I'm already on my mid 20s. Lol.

But then again, the envelope never came and you need to go back to reality and face your whole-damn-boring life......................................until this February. I found this magical place in Japan.

At the end of 2015, I never thought that Hogwarts was really exist until i saw one of my friend photos in instagram and saw the pictures of hogwarts and butterbeer. I was so happpyyyy to find out that Universal Studio Japan has their own area for Hogsmeade and Hogwarts. A magnificent area reproducing the world from Harry Potter stories on an overwhelming scale and with meticulous attention to the details. It was like all of sudden, your dream comes true! You dont need an owl to enter hogwarts, you only need 7.000 yen the to enter the wholeeeeee magnificent Hogsmeade and Hogwarts Castle. Yes i know it's quite expensive but totally worth it. The price is for the whole parks in Universal Studio Japan, not only the Harry potter. I could cryyy with tears of joy for the rest of my life !

Hogwarts Castle

Dont you want to ride Hogwarts express?

Let's go!


Obligatory selfie! Me in front of Olivanders.
Owl Post and Owlery

Inside The Owl Post and Owlery


ZONKO's ! who doesnt want extendable ears for eaves dropping? ;)

Honey Dukes, Heavenly place for Candies and chocolate. 

Bertie bott's every-flavour beans 

The famous Butterbeer !!

Inside The Three Broom Stick. Let's get some lunch!
What's your favourite?

Shepperd's Pie and Pumpkin Juice

Did you remember whose flying car is this?
Pumpkin Juice's Stall
Hagrid's House

The details were very overwhelming. You could buy a glass of butterbeer, and it was taste good! *cries*, You could go to Olivanders wand shop and experience buying your own wand, You could eat lunch at Three Broomstick or just go to the hogshead for some casual butterbeer drink. You could buy your own hogwarts robe and choose which house do you like (Slytherin, Hupplepuff, Ravenclaw or Gryffindor). You could shop many types of candies and chocolates at Jonko's and Honey dukes.

Actually, I can hardly describe it in words very well, you will know what i'm feeling if you could be there!


xoxo,
Tissaflo

Sabtu, 19 Maret 2016

Zao Fox Village

I had a bussiness trip around tohoku last week and after finished the event, I decided to visit the cutest village on earth which is take place in Tohoku area! It was a Fox Village in Miyagi prefecture. Actually, I Just heard about it before, but never passed in my mind that i would visit that place for real because it was very very very very far from Kobe. But yeah finally I got the chance to see these surreal creatures! *crying happily*

It took almost 2 hours by shinkansen from tokyo to Shiroishizao station. After arrived safely in the station, we caught a cab to the hill for 20 minutes trip (cost 4000 yen for taxi-ride). Althought, it was cheaper to take a bus from Shiroishi station ( Shiroishizao station is only for Shinkansen), but we missed the bus so we prefer to took a cab. Anyway, You could easily get the information about the village from the information center in the station. Some of the staff will recomend you to call the taxi again when you want to go back to the station from the village. So you need to write down the cab driver's phone number. But, Actually, the owner of the fox village will kindly help you to order taxi or show you the schedule of the bus. It was easy to get in and get out the village.









Honestly, I was really scared at first. Because I always scared of dog (i had these kind of childhood traumatic), and i thought that Fox will be quite similar. But I forced myself to visit the fox village. It was simply because i always thought that Fox was so surreal and i'm curiously want to meet those creatures, despite how scared i am. It was totally worth it! The fox wasnt scary at all, turns out, they were soooooo sooo cute!! i want to pet 'em so bad, but indonesia's weather is sunny all the time, the fox wouldnt be able to live, tho. Additionally,  It is better to come on winter because you could see snow covering all over the places. The combination of the red fox color and the snow will perfectly good in a camera frame!



xoxo,
Tissa


Senin, 18 Januari 2016

KIITO


As i mentioned before, that since december 2015 I have started my life in japan till the next 9 months. I was an intern in NPO +arts to study about disaster Risk Reduction education and how to design some program, games, and tools related to disaster education for children. NPO+arts office is in the same building with KIITO Creative and Design center in Kobe. For several project related to design and disaster, NPO+arts will colaborating and develop the same program. And how could i ended up here? well, it's a long story, tho. I will keep it for another time. Lol. :p
Right now, i would like to tell to you how surprise i am with my new office :p

At first, i thought that my office will be small but homey since it was a NGO (non Governmental Organization), and related to disaster. i thought that it would be so messy with things about disaster preparation, and the people who work there will mostly an outdoor people who ready anytime anywhere become volunteer when disaster comes. But, Woopsie, it was wrong. Turns out that this office building was a heritage building. The former 'Kobe Raw Silk Testing Center' was renovated and opened in August, 2012 as The 'Design and Creative Center Kobe'.

As An half-Architect and half-designer, I found this place was so interesting and artsy. They turn the old building into an artsy place! I really love that idea. Additionally, they also have a really cute Cafe called KIITO Cafe and their interior design were so cool. 

Main entrance of The Building

Me and the leftover of KIITO's BE KOBE Meeting
The view from the afternoon

KIITO CAFE

Did you just love the Ambience of this Cafe? :)

Another Corner of KIITO Cafe
I love how they turn things into table

And the People in the cafe was so nice and friendly :)
had lunch with My Senpai from the Office

Today's Special

KIITO Second floor






xoxo,
Tissaflo